Optimalisasi dalam memberikan kolostrum dan ASI pada bayi, tentunya perlu strategi. Langkah pertama adalah melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). IMD adalah proses dimana bayi diletakkan di dada ibu segera setelah dilahirkan dengan kontak kulit dan kulit antara ibu dan bayi selama 1-2 jam.
Pada proses ini, bayi akan menemukan puting ibunya sendiri dan kemudian menyusu. Hal ini sangat penting untuk bayi segera mendapatkan kolostrum. Isapan bayilah yang menstimulus ibunya semakin banyak memproduksi ASI.
Langkah berikutnya, upayakan agar ibu berada dalam kondisi tenang dan merasa yakin dapat memberikan kolostrum serta ASI pada sang bayi. Ketenangan dan kenyamanan ibu dalam proses menyusui berpengaruh pada kerja hormon oksitosin.
Perlu diketahui juga, beberapa ibu mengeluarkan kolostrum sebelum melahirkan, yakni pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Ini dikarenakan, calon ibu mengalami perubahan pada anatomi payudara. Pada masa ini, terdapat seri perubahan selular di mana sel-sel epitel kelenjar susu berubah dari nonsekresi menjadi sekresi. Pada laktogenesis, kelejar susu menunjukkan kemampuannya untuk menghasilkan susu.
Adapun manfaat IMD, memberi kesempatan pada bayi untuk mendapatkan kolostrum, yaitu tetes ASI pertama ibu yang kaya nutrisi dan membantu mencegah penyakit. Cairan pertama dari ASI ini biasanya berwarna kuning, sangat padat, dan hanya sebanyak kira-kira satu sendok teh.
Proses ini juga menunjang keberhasilan ASI eksklusif hingga setidaknya 4 bulan selanjutnya. ASI eksklusif mengandung arti bahwa makanan bayi hanyalah ASI, tanpa cairan atau makanan padat lain termasuk air mineral. ASI eksklusif ini umumnya diterapkan di usia bayi 0 sampai 6 bulan.
Bukti menunjukkan bahwa kulit bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit ibunya (skin-to-skin contact) segera setelah ia lahir ke dunia dapat membangun keintiman dengan sang ibu menjadi lebih dalam. Proses ini juga membantu membuat bayi tetap merasa hangat setelah keluar dari rahim.
Lebih jauh, kulit tubuh bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit tubuh ibunya merupakan cara efektif untuk dilakukan tidak hanya saat proses inisiasi menyusui dini, tapi bisa kapan saja, untuk menenangkan bayi saat sakit dan membuat sang ibu lebih nyaman.
Manfaat IMD lainnya, bayi menjadi lebih tenang dan relatif tidak terlalu sering menangis.Mengurangi angka kematian bayi baru lahir.IMD juga meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, dan daya tahan tubuh bayi, terutama di usia 0 – 1 tahun. Lebih menstabilkan napas bayi, terutama setelah dilahirkan.
IMD juga diyakni dapat membantu ibu untuk pulih lebih cepat setelah proses persalinan. Meski mengandung banyak manfaat, tetapi penerapan proses ini tidak mudah. Umumnya dikarenakan belum banyak orang yang memahami pentingnya prosedur ini.
Cara Menerapkan IMD
Di Indonesia, persoalan dan tantangan yang sering dihadapi adalah belum banyak rumah sakit ataupun bidan yang mengakomodasi proses inisiasi menyusui dini ini. Oleh karenanya, untuk dapat menerapkan proses ini, penting bagi para calon ibu untuk memilih rumah sakit yang pro-ASI dan pro-IMD.
Berikut beberapa hal yang wajib ditanyakan saat mencari tempat bersalin jika ingin menerapkan inisiasi menyusui dini:
-Apakah rumah sakit tersebut memiliki kebijakan untuk menempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan atau rooming-in pasca persalinan.
-Rumah sakit tersebut sebaiknya tidak menyarankan ibu, terutama yang belum berhasil memproduksi ASI, untuk memberikan susu formula kepada bayi.
-Apakah dokter dan atau perawat yang akan membantu persalinan pro-ASI dan siap membantu ibu untuk menyusui.
-Kepastian untuk memberikan waktu kepada ibu dan bayi untuk melakukan inisiasi menyusui dini setelah persalinan dan membiarkan bayi menyusu selama yang ia butuhkan.
-Keperluan lain seperti memandikan dan menimbang bayi dapat ditunda setelah proses IMD.
Namun memang ada kalanya beberapa prosedur seperti operasi caesar di luar rencana atau komplikasi lain saat persalinan sering membuat proses ini tidak dapat dijalankan. Meski demikian, penting bagi ibu untuk menekankan keinginannya untuk menjalankan prosedur ini, jika memang masih memungkinkan.
Pada akhirnya, inisiasi menyusui dini dapat berhasil diterapkan jika ibu yang menjalani proses persalinan telah siap secara fisik dan mental. Proses ini juga hanya akan berhasil jika sang ibu percaya diri dan didukung penuh oleh semua pihak di sekitarnya, terutama rumah sakit, dokter yang menjalankan proses persalinan, dan keluarga.
ASI Transisi dan Asi Matang
Kolostrum kemudian berubah menjadi ASI transisi. ASI ini merupakan peralihan dari kolostrum ke ASI matang, biasanya mulai dari hari ke-4 sampai hari ke-10. ASI ini banyak mengandung lemak dan gula (laktosa) disbanding kolostrum. ASI Transisi kemudian berubah menjadi ASI matang sampai seterusnya.
ASI Matang terbagi menjadi dua, yaitu ASI awal (foremilk) dan ASI akhir (hindmilk). ASI awal adalah ASI yang pada menit-menit awal keluar, sedangkan ASI akhir adalah ASI yang keluar belakangan. ASI awal biasanya lebih encer karena mengandung lebih banyak air. Sedangkan ASI akhir lebih kental karena mengandung lebih banyak lemak.
ASI matang mengandung semua komposisi nutrisi yang dibutuhkan bayi. Energi yang diberikan ASI matang sebesar 75 kkal/dl. Adapun kandungan lemak dalam ASI tergantung pada beberapa hal saat kehamilan (maternal). Yaitu metabolisme, berat badan ibu, diet dan frekuensi makan ibu.
Tag :
inisiasi menyusui dini

0 Komentar untuk "Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini "